• Address : Jl. Prof. Dr. Hamka Kampus UNP Air Tawar Padang
  • Call Us : +627517058693
  • RSS

Program Pelatihan Menggosok Gigi dalam Meningkatkan Keterampilan Bina Diri Siswa Tunagrahita di SLB se-Kota Padang: Pengabdian Dosen PLB FIP UNP


Program Pelatihan Menggosok Gigi dalam Meningkatkan Keterampilan Bina Diri Siswa Tunagrahita di SLB se-Kota Padang: Pengabdian Dosen PLB FIP UNP

By : Admin PLB Date : 2019-10-24 05:24:17

SLB merupakan salah satu wadah yang diharapkan dapat mengembangkan bina diri anak tunagrahita. Hal itu mengharuskan SLB diwajibkan dapat memberikan kemampuan terbaik dalam menjalankan tugas dan kinerjanya. Salah satunya ditunjang dengan fasilitas dan sumber daya manusia (SDM yang sangat memadai. SLB memiliki berbagai macam jenis anak berkebutuan khusus, salat satunya anak tunagrahita. Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (Mental Retardation) yang artinya terbelakang mental (Yosiani, 2014). Namun tidak semua anak tunagrahita adalah retardasi mental. Anak tunagrahita mengalami masalah dalam bina diri. Agar dapat menolong dirinya sendiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari anak tunagrahita harus diberikan latihan bina diri sehingga anak tersebut tidak selalu tergantung dengan orang lain. Anak tunagrahita merupakan individu yang utuh dan unik, sama seperti anak pada umumnya memiliki hak sepenuhnya atas layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. kata tunagrahita   merupakan asal dari kata tuna yang berarti ‘merugi’ sedangkan grahita yang berarti ‘pikiran’. Meskipun anak tunagrahita memiiki hambatan pada intelektual, Namun anak tunagrahita ini juga masih memiliki potensi yang perlu dikembangkan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh anak tersebut.  Pendidikan yang mampu melayani anak tunagrahita adalah sekolah khusus yaitu Sekolah Luar Biasa. Melalui Sekolah Luar Biasa ini anak tunagrahita mendapatkan pendidikan yang bersifat akademik dan non akademik yang sesuai dengan kebutuhannya. Pendidikan yang bersifat akademik tidak jauh berbeda dengan sekolah–sekolah pada umumnya, namun ada beberapa yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan anak. Sedangkan pendidikan non akademik khususnya bagi anak tunagrahita yaitu anak diajarkan pengembangan diri/ bina diri seperti menolong diri, merawat diri, dan kebersihan diri. Anak tunagrahita mengalami masalah dalam bina diri. salah satunya dalam kegiatan merawat diri yaitu menggosok gigi. Siswa tunagrahita kategori sedang masih merasa kesulitan dalam menggosok bagian-bagian gigi yang letaknya berada di dalam seperti gigi bagian kanan dan kiri serta gigi bagian dalam, siswa hanya mampu menggosok bagian tertentu saja seperti bagian depan dan bagian gigi graham atau gigi pengunyah. Hal ini dikarenakan belum adanya kegiatan rutin menggosok gigi di sekolah. Berdasarkan permasalah tersebut, maka upaya yang dapat dilakukan pada anak tunagrahita tersebut yaitu dengan cara memberikan program pelatihan bina diri.

Data World Health Organisation (WHO) tahun 2005 menunjukkan bahwa 90% dari jumlah anak di dunia mengalami masalah kerusakan gigi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, karies gigi diderita oleh 72,1% penduduk Indonesia dan dalam 12 bulan terakhir sebanyak 23,4% penduduk Indonesia mengeluhkan adanya masalah pada gigi dan mulutnya (Sutjipto, Chrisdwianto., 2013). 91,1% masyarakat Indonesia yang berumur di atas 10 tahun, meskipun sudah menggosok gigi setiap hari, namun hanya sebesar 7,3% yang telah menggosok gigi secara benar, yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan Unilever ditahun 2007, hanya terdapat 5,5% masyarakat Indonesia yang memeriksakan kesehatan gigi secara teratur ke dokter gigi (Mostofsky, 2006; Pintauli, 2008).

Berdasarkan kondisi di atas, tim dari jurusan PLB FIP UNP bekerjasama dengan dokter spesialis mulut dan gigi melaksanakan kegiatan pengabdian Program Kemitraan Masyarakat terhadap guru-guru sekolah luar biasa se-Kota Padang. Judul dari kegiatan ini “PROGRAM PELATIHAN MENGGOSOK GIGI DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BINA DIRI SISWA TUNAGRAHITA DI SLB se-Kota Padang, yang dilaksanakan selama empat hari kegiatan, tanggal 31 Agustus,1, 2 dan 3 September 2019.

Kegiatan ini dihadiri oleh 22 orang  guru-guru dari Sekolah Luar Biasa se-Kota Padang, empat orang narasumber, dan enam orang mahasiswa. Kegiatan ini dilaksanakan di SLBN 1 Kota Padang. pada hari pertama kegiatan berupa penyampaian materi: pertama, pembelajaran bina diri pada anak tunagrahita. Kedua, kesehatan gigi dan mulut. Ketiga, teknik menggososk gigi yang baik dan benar. Narasumber pada kegitan ini adalah Grahita Kususmastuti, M.Pd. pakar pendidikan anak tunagrahita dan Dr. drg. Nila Kusuma M. Biomed pakar kesehatan gigi dan mulut, drg. Haria Fitri pakar kesehatan gigi dan mulut dan drg. Fildzah Nurul Fajrin pakar kesehatan gigi dan mulut . Pada hari kedua, praktek menggosok gigi yang baik dan benar, program khusus bina diri dalam Kurikulum 2013, dan penyusunan RPP menggosok gigi bagi anak tunagrahita. Pada hari ketiga, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran bina diri bagi anak tunagrahita. Pada hari keempat praktek menggosok gigi kelas I-VI,  tim pelaksana pengabdian masyarakat mengunjungi masing-masing SLB untuk melihat kemampuan guru dalam mengajarkan cara menggosok gigi kepada peserta didiknya. Dua orang dokter gigi mendampingi tim pengabdian kepada masyarakat untuk membantu memeriksa teknik/cara-cara yang dilakukan oleh guru dalam mengajarkan peserta didik cara menggosok gigi.

All Rights Reserved © Copyright 2016 Fakultas Ilmu Pendidikan UNP